Selamat Datang JOMO: Tren Anak Muda 2026 yang Lebih Memilih “Absen” dari Hiruk Pikuk Digital
- account_circle admin linikini
- calendar_month Ming, 4 Jan 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar

Lini Kini – Jika tahun-tahun sebelumnya istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren menghantui keseharian Gen Z dan Milenial, kini kondisinya berbalik 180 derajat. Di awal tahun 2026, sebuah gerakan baru bernama JOMO (Joy of Missing Out) resmi menjadi gaya hidup pilihan anak muda di kota-kota besar Indonesia.
JOMO adalah kondisi di mana seseorang justru merasa puas dan bahagia ketika mereka sengaja melewatkan acara, tren, atau hiruk-pikuk media sosial demi menikmati waktu berkualitas bagi diri sendiri.
Pakar perilaku sosial mencatat bahwa lonjakan JOMO di Indonesia dipicu oleh kejenuhan akut terhadap arus informasi yang tidak berhenti selama 24 jam. “Anak muda sekarang mulai merasa bahwa mengetahui segala hal yang sedang viral adalah beban, bukan lagi keharusan,” ujar sosiolog gaya hidup, Dr. Rina Mahendra.
Fenomena ini terlihat dari beberapa perilaku baru di kalangan anak muda Jakarta dan sekitarnya diantaranya, “Silent Saturday” Gerakan mematikan notifikasi ponsel atau menghapus aplikasi media sosial selama akhir pekan.
Hobi Low-Tech, Tren meningkatnya peminat kegiatan manual seperti merajut, berkebun di lahan sempit, hingga menulis jurnal fisik yang tidak untuk dipamerkan di Instagram atau TikTok.
Eksklusivitas Nyata, dimana lebih memilih pertemuan intim dengan 2–3 teman dekat daripada hadir di acara besar yang penuh sesak hanya demi konten.
Tren JOMO bukan sekadar gaya-gayaan. Para psikolog menilai ini adalah mekanisme pertahanan diri yang sehat. Dengan menerapkan JOMO, anak muda melaporkan penurunan tingkat kecemasan (anxiety) dan perbaikan kualitas tidur yang signifikan.
“Dulu saya merasa stres kalau tidak tahu kafe mana yang lagi hits atau konser apa yang harus didatangi. Sekarang, menghabiskan Sabtu malam dengan menyeduh kopi di rumah tanpa tahu dunia luar sedang apa, rasanya jauh lebih mewah,” ungkap Arini (23), seorang pekerja kreatif di Jakarta Selatan.
- Penulis: admin linikini

Saat ini belum ada komentar