Presiden Venezuela Diringkus, Tuduhan Penyelundupan Narkotika Hingga Ambil Alih Cadangan Minyak Jadi Penyebab!
- account_circle editor
- calendar_month Ming, 4 Jan 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar

Internasional – Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer skala besar yang diluncurkan Amerika Serikat ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Operasi yang diberi sandi “Operation Absolute Resolve” tersebut berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Menurut laporan saksi mata, suara ledakan keras dan pesawat yang terbang rendah terdengar di seluruh Caracas sebelum fajar menyingsing. Pasukan elite AS dilaporkan menyerbu kediaman presiden dan membawa Maduro langsung dari kamar tidurnya.
Beberapa jam setelah operasi, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan resmi dari Gedung Putih. Trump mengonfirmasi bahwa Maduro telah berada dalam tahanan AS dan diterbangkan menuju New York untuk menghadapi pengadilan federal.
Penangkapan ini didasarkan pada dakwaan dari Departemen Kehakiman AS yang menuduh Maduro memimpin organisasi perdagangan narkoba internasional yang dikenal sebagai Cartel de los Soles.
Tuduhan mengarah pada dugaan keterlibatan dalam penyelundupan ribuan ton kokain ke Amerika Serikat dengan Penggunaan perangkat militer untuk melindungi operasi perdagangan narkoba.
Selain itu, AS menganggap pemerintahan Maduro tidak sah, terutama setelah sengketa pemilu tahun 2024.
Penangkapan seorang pemimpin negara yang masih menjabat melalui intervensi militer langsung ini memicu reaksi keras secara global.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan yang berat dan bentuk agresi imperialisme.
Penangkapan seorang kepala negara aktif di wilayah kedaulatannya sendiri menciptakan preseden yang mencemaskan. Banyak pakar hukum di kawasan mengkhawatirkan bahwa ini akan melegitimasi intervensi militer serupa di masa depan dan melemahkan peran organisasi regional seperti OAS (Organization of American States) yang kini tampak tidak berdaya di hadapan kekuatan militer AS.
Pengambil alihan kekuasaan ini tidak terlepas dari perebutan kontrol cadangan minyak terbesar dunia. Dimana Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Analis ekonomi memperkirakan.
Jika AS berhasil mengisi pemerintahan transisi yang pro-Barat, AS akan memiliki pengaruh besar atas pasokan minyak global dan harga pasar.
Dengan kemungkinan terbesar adanya potensi masuknya kembali raksasa minyak seperti Chevron dan ExxonMobil secara besar-besaran untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela yang hancur.
Meskipun Maduro telah ditangkap, loyalisnya di militer Venezuela dan kelompok paramiliter (colectivos) masih ada. Ketidakpastian politik di Caracas bisa memicu gelombang migrasi baru ke negara tetangga seperti Kolombia dan Brasil.
Dengan keterlibatan Rusia dan China yang memiliki kepentingan ekonomi besar di Venezuela, kawasan ini berisiko menjadi arena gesekan antara kekuatan global (AS vs Rusia/China).
- Penulis: editor

Saat ini belum ada komentar